Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan

Ibnu Sina Dormitory

Satu 1
Ibnu Sina Dormitory (Oktober)

Sepoi-sepoi angin malam yang berasal dari hamparan sawah yang terbentang luas dihadapanku mengharu birukan suasana malam di sebuah pondok pesantren trandisional yang berada di desa Ajuen, ini merupakan hari pertama bagiku menginjakkan kaki di pesantren tradisional Raudhatul Muna, setahun setelah keluar dari Pesantren Modern Bustanul Ulum di Kota Langsa.

Deru angin malam nan sejuk, cahaya bulan yang menerangi malam, serta bintang-bintang bertaburan diangkasa memutar kembali memori-memori dua tahun di asrama Bustanul Ulum dulu, sejak aku memasukinya kelas dua Tsanawiyah. Aku terus termenung, melukiskan keceriaan, keakraban, suka dan duka di sebuah surau kosong berukuran tiga kali empat meter sambil menunggu adikku selesai.

Sedangkan sebagian santri yang lain ada yang telah kembali ke kamar merefreshkan kepala ada yang menuju ke dapur untuk memenuhi panggilan jasmani setelah tiga jam mengikuti pengajian kitab yang dipimpin oleh seorang Tgk disetiap suraunya.

***

Aku menatap kosong ke hamparan sawah yang mulai tampak kekuningan. Seketika itu memori dahulu kembali terulang. Saat itu aku kelas dua Tsanawiyah di Bustanul Ulum, aku bersama teman-teman berbarengan menuju ke kelas pada sore hari menghadiri pengajian kitab yang bermacam-macam setiap harinya kecuali jum'at dan minggu. Selesainya, sekitar satu jam sebelum azan maghrib, kami buru-buru ke dapur mengambil makanan sebagai makan malam, ada yang mandi terlebih dahulu, ada yang mengantarkan pakaian kepada tukang cuci, ada juga yang hanya istirahat di kamar.

Setelah maghrib juga sesekali ada pengajian lagi di kelas, bagi yang free bisa istirahat di kamar atau menghafal al Quran di Mushalla. Aku lebih banyak menghabiskab waktu kosong dengan membaca buku agama, entah ngerangan apa yang membuatku saat itu tidak memiliki niat yang besar untuk mengafal al Quran. Begitu sampai Isya datang, dan terus berlanjut setelah shalat Isya sampai badan terasa lelah, dan mata terasa kantuk.

Genap delapan jam Istirahat, azan subuh pun berkumandang, udara pagi yang tidak begitu dingin memberikan hikmah tersendiri bagi sebagian warga Kota Langsa yang istiqamah mendirikan shalat jama'ah di masjid. Aku langsung bangkit dari tempat tidur setelah mendengan lafaz assalatu khairum minan naum, bagiku lafaz ini sudah menjadi bagian dalam muhasabah diri yang telah banyak melakukan dosa. Lantas saja aku membangunkan teman sekamar yang berjumlah sembilan orang. Kami bersepuluh tinggal di asrama Ibnu Sina kamar sebelas, asrama ini terdiri dari dua lantai dan memiliki dua belas kamar, setiap lantainya ada enam kamar. Kamar satu ditempati santri kelas lima dan enam sebagai asisten pamong, dua dan tiga santri kelas empat, empat sampai enam santri kelas satu. Sedangkan lantai dua, kamar tujuh dan delapan ditempati santri kelas tiga, sembilan sampai duabelas santri kelas dua. Setidaknya aku sedikit nyaman, karena 'kamar sebelas berada ditempat yang paling strategis diantara semua kamar' begitu kata orang-orang terdahulu.

Aku membuka pintu kamar ingin menuju ke kamar mandi, tangga berada di setiap sudut, biasanya aku turun lewat depan kamar duabelas karen lebih dekat, sambil mengetuk pintu-pintu kamar yang masih terkunci dari dalam. Kamar mandinya termasuk luas, di dalamnya terdapat bak sepertu kolam berukuran dua kali sepuluh meter. Karena air melebihi dua kulah maka sah sah saja kami langsung memasukkan tangan untuk berwudhu. Aku keluar kamar mandi dan membaca doa yang biasa aku baca, dan langsung menuju kamar melewati tangga yang berbeda sambil membangunkan teman yang masih tidur lainnya.

Shalat dipimpin oleh seorang Syaikh bermazhab Syafi'iyah yang didatangkan dari Mesir, beliau sudah dua tahun menetap di Pesantren ini. Karena pesantren ini juga Syafi'iyah, seperti kebanyakan orang Indonesia, Syaikh membaca Qunut di rakaat kedua setelah i'tidal. Qunut yang beliau baca berbeda dengan kebiasaan yang saya dengar, banyak doa-doa asing di telinga saya yang beliau tambah dan durasi Qunut juga yang hampir sepuluh menit membuat shalat subuh lebih panjang.

Ibnu Sina merupakan asrama khusus bagi orang-orang yang berkomitmen menghafal al Quran. Jadi, setelah Subuh kami memiliki jam tambahan di kelas selama satu setengah jam untuk menyetor hafalan. Udara pagi yang tidak terlalu dingin membuat langkah kaki sedikit ringan menuju kelas yang berjarak 300 meter dari Asrama. Setiap santri diharuskan untuk menyetor satu halaman. Namun sudah lumrah diantara sepuluh orang yang rajin pasti aja saja satu yang malas, diantara tujuh hari pasti ada satu hari yang lalai, penyakit ini yang membuat targetku sering terbengkalai.

Waktu makan pagi pun tiba ditandai dengan suara 'lonceng' yang berasal dari tabrakan batu dengan besi tiang listrik. Aku dan teman sekamar, fathir biasanya makan sepiring berdua. Jadi, tugas menuju dapur pun dibagi, aku mendapat jatah makan siang, dan fathir makan malam. Sedangkan makan pagi kami menjadwalkan ke dapur bersama, karena pagi udaranya segar, jarak dapur 100 meter dari asrama lumayan bisa menghirup udara segar yang masih berembun selama sepuluh menit. Kemudian bersiap-siap menuju kelas mengikuti jam sekolah umum. Begitu setiap harinya kegiatan selama dua tahunku di Pesantren dengan sedikit bumbu-bumbu yang berbeda.

***

Aku mengalihkan pandangan dari hamparan sawah ke surau tempat adikku mengaji. Mulai terlihat gerak-gerik tanda usainya pengajian. Terlihat adikku keluar dari surau dan menemuiku.

"Bagaimana, sudah selesai? Kenapa telat sekali selesainya?" tanyaku.

"Sudah bang, pembahasannya panjang bang, jadi lama" jawabannya polos.

"Yasudah, ayo pulang sudah jam.sebelas ini" ajakku seraya memutarkan sepeda motor merek suzuki berwarna putih sebagai saranaku untuk pulang-pergi sekolah.

Sesampai dirumah, makam malam sudah disediakan oleh mama, aku makan secukupnya, hanya untuk menganjal perut. Lalu aku menuju ke kamar yang berada di lantai dua dan melentangkan badan di atas kasur berbahan kapas. Aku menyetel alarm pukul satu dinihari, berharap bisa terbangun karena masih banyak tugas sekolah yang belum selesai.

Irama musik Lost Avenged Sevenfold mulai terdengar,, suara gitar yang fantastis menyadarkan alam imajinasiku, namun sulit rasanya untuk membuka mata.

Lirik lagu

Sudah dua menit lagu berjalan, aku terus berusaha membuka mata, dan berusaha untuk duduk. Badanku terasa sedikit pegal, mungkin karena penuhnya jadwal hari kemarin sampai-sampai tidak sempat merehatkan badan walau sejenak.

Tanpa buang-buang waktu, aku mengambil buku satu persatu yang bertumpuk di atas meja kecil. Semuanya buku mata pelajaran besok.

"Fiqh tidak ada tugas, Bahasa Indonesia juga tidak, aman! Satu lagi Kimia, ini ni yang ada tugas halaman 87" aku membatin.

Aku mengerjakannya dengan tulus, karena memang Kimia pelajaran yang mudah bagiku ketimbang pelajaran yang lain.

********rumus kimia

Aku terbangun pukul lima pagi ketika Azan berkumandang, ku dapati disekelilingku berserakan beberapa buku. Aku baru ingat, tadi aku tertidur tanpa sadar, lalu aku membuka halaman buku, "Alhamdulillah hampir selesai sedikit lagi, nanti di kelas aku sambung" aku meyakinkan.

Aku kembali dibayangi oleh suasana di pesantren, ketika waktu subuh shalat jama'ah di masjid.

"Apa aku bisa menerapkan di lingkunganku sekarang ini ya?" tanyaku dalam hati.

Memang, selama selesai Tsanawiyah dan melanjutkan Madrasah Aliyah Negeri yang tidak tinggal di asrama, aku sudah jarang bahkan tidak sama sekali kemasjid dalam satu bulan. Ini menjadi pukulan telak bagiku, aku coba merenungu sejenak. Terbesit dihatiku untuk segera keluar kamar, berwhudu, berpakaian rapi, dan aku pun melangkahkan kaki ke Meunasah yang jaraknya tidak jauh dari rumah. Aku benar-benar menikmati jama'ah subuh ini, Tuhan masih memberiku taufiq dan hidayah sehingga kaki masih sanggup melangkah, mata masih mampu melihat, hati masih mampu merasakan cinta sang hamba kepada Tuhan yang menciptakannya.

Ayat

"Ini hari kamis,, so, malam jum'at tidak ada pengajian" sambil melihat kelender aku bergumam. Setidaknya hari ini tidak terlalu lelah harus sampai malam belajar. Langsung saja bersiap-siap, sarapan, dan berselancar di jalan yang sedikit berembun menuju sekolah.

***

Malam jum'at biasanya aku membaca al Quran lebih banyak dibanding waktu lainnya. Kali ini aku mengulang hafalan juz satu, membaca surat Yasin, dan al Kahfi. Setelah semua selesai, sekarang saatnya membereskan barang-barang yang berserekan. Wajar saja, kamar anak muda, pasti banyak yang berserakan. Ketika membuka lemari tempat menyimpan buku, aku melihat sebuah buku yang mencolok, covernya tebal kotak-kotak variasi warna hijau.

"What is that? Oh no, ini buku diaryku dulu ketika di pesantren. Masih ada ternyata" spontan terucap dari lisanku. Selama di pesantren aku sering melukiskan kejadian-kejadian aneh, seru, ajaib, dan horor ke dalam tulisan. Bukan tulisan-tulisan lebay yang banyak di dapat pada diary kebanyakan orang sekarang. Sehingga dua tahun disana hanya menghasilkan satu buku diary yang berjumlah 80 halaman.

Aku lantas membukanya dari awal, satu persatu sampai aku menemukab sesuatu yang membuatku tersenyum diiringi sedikit tawa.

IBSI, 10 Desember 2008

Alhamdulillah, puasa senin kamis berjalan lancar semoga tetap istiqamah, ini semua karena ada teman yang mau bareng juga. Jadi tidak sendirian makan sahurnya.

Tiga hari lalu, rabu sore, adik kelas satu lantai bawah minta di bangunin sahur. Sebelum-sebelumnya aku juga care sama mereka, jadi akrab gitu.

"Bang, puasa kamis besok?"

"InsyaAllah kalau bangun sahur, kenapa mau puasa juga?"

"Iya ni, tapi kalau bangun sahur. Ntar malam tolong bangunin ya"

"Yup, abang ketuk pintu nanti ya, dibuka! Jangan kirain hantu"

Waktu malamnya, aku bangun jam setengah tiga, stok untuk sahur sudah ada Indomie. Air ambil di dapur umum. Teringat adik kelas minta dibangunin aku pun turun ke bawah. Rencananya mau ketuk pintu. Tapi tiba-tiba berubah pikiran jadinya ketuk jendela belakang. Belakang asrama kan sedikit gelap, jadi lebih seru. "Tok tok tok,, bangun, bangun,,," dengan meminjam irama hantu-hantu di televisi. Semakin keras aku mengetuk dan bersuara. Akhirnya orang didalamnya ada yang terkejut juga.

"Hahaha,, seru juga dulu, sekarang siapa coba mau dikerjai" aku tertawa lepas.

Aku terus membuka halaman demi halaman menikmati goresan tinta sekitar tiga tahun yang lalu saat mengecap pendidikan di Bustanul Ulum. Sesekali membacanya. Dan meresapi arti kebersamaan selama di asrama Ibnu Sina dulu. Kuhidupkan laptop dan kutulis secarik kata bermakna buah dari nostalgia indah di malam nan sunyi.

“Tak ada yang benar- benar bisa hidup sendiri. Karena Alam terlampau luas. Kebahagiaan hanya untuk mereka yang mengerti arti Kebersamaan, Itulah Kita”

Kehidupan adalah sebuah siklus sebab akibat. Berbuat baik, saling berbagi dalam kebersamaan, menjalin sebuah hubungan yang positif itu pilihannya. Siapa yang menanam padi pasti akan tumbuh padi bukan? Sebuah kebersamaan juga tidak bisa dipaksakan. Meskipun ada hubungan timbal balik, seperti sebuah simbiosis tapi atas dasar kerelaan. Karena dalam menjalin sebuah hubungan sosial kita harus belajar bagaimana pentingnya saling memahami, mau mendengar, mau berbagi dan mau untuk peduli. Karena dengan begitu kita akan bisa memaknai sebuah kebersamaan.

Kebahagiaan dalam sebuah kebersamaan adalah ketika bahagia dengan kebersamaan itu sendiri. Artinya hubungan yang terjalin adalah sebuah kebaikan. Namun terkadang dalam menjalin sebuah hubungan kita harus bisa menciptakan ruang dan jarak. Mengambil jarak yang kita butuhkan. Membiarkan ruangan dalam sebuah hubungan. Menciptakan suatu ruang untuk berekspresi. Sebuah ruangan yang kita butuhkan untuk bergerak bebas. Sebuah jarak yang kita butuhkan untuk introspeksi. Melihat apa yang sudah kita berikan, dari sudut pandang yang lebih luas. Ketika kita terlalu dekat, sudut pandang kita terlalu sempit. Akibatnya penilaian kita menjadi lebih subjektif. Saat kita menjauh, kita bisa melihat lebih menyeluruh. Hal ini dibutuhkan untuk lebih objektif.

Karena kebersamaan itu sendiri bukan berarti kita selalu bersama-sama secara fisik, tapi lebih pada hubungan psikologis. Tidak selamanya kita akan selalu bertemu dan bersama, mungkin suatu saat kita akan berpisah. Memang sesuatu diciptakan mempunyai pasangan sendiri-sendiri, sepertinya halnya Pertemuan dan Perpisahan.

Dan semoga kebersamaan akan selalu ada, bersama indahnya masa yang terukir dan manisnya kenangan yang terekam. Kita tetap harus siap dengan segala kemungkinan dan apapun yang terjadi. Ketika niat kita adalah sesuatu baik maka hasil akhirnya pun akan baik.

Hikayat Aceh Palèh

Paléh utôh geuböh seunipat
Paléh teungku geuböh kitab
Paléh ureung tuha geuböh tungkat
Paléh meuneukat böh kira mira

Paléh imum jakeut fitrah puwoë keudroë
Paléh makmum dijih kiblat tan jituho
Paléh pemimpin deungö haba beurang kasaoë
Tië seupôh côh bôh gö, cok tiëk lam ië watèë leupië pulang keu po,,

Istirahat Bukan Tidur

Aku masih belum paham dengan hasil yang Allah berikan kepadaku, namun aku tetap bersyukur. Kembali aku memutar ingatan masa lalu ketika aku belajar.

Proses belajarku pada tahun ini sedikit meningkat. Memang tetap ada kesalahan-kesalahan yang aku lakukan, seperti mata kuliah Tauhid, ini sungguh menyulitkan hari-hariku selepas ujian. Bagaimana tidak, sampai malam ujian aku belum mempersiapkan secara matang. Aku rasa ini pertolongan Allah.

Term pertama pun berlalu dengan berakhirnya ujian mata kuliah keempat, qadaya. Berniat saat itu akan memperbaiki hari yang buruk di musim dingin pada musim panas mendatang. Lama menunggu waktu, akhirnya tiba waktunya Term kedua dimulai. 

Kuliah pada Term ini sedikit berlubang, yang aku masih ingat mata kuliah ushul fiqih. Mata kuliah ini sekalipun aku tidak menghadirinya. Namun tidak tanpa alasan, jadwal kuliahnya bentrok dengan jadwal memasak. Aku juga ingat, musim panas ini aku sedikit sadar akan kapasitas diriku dalam membaca Al Quran, akhirnya aku mengikuti pelatihan tahsin di dua tempat, pagi setelah subuh di husain bersama seorang Syaikh, dan sore harinya di Mutsallas bersama guru asal Indonesia. 

Disela-sela waktu aku juga mengikuti pengajian pelajaran Nahwu di salah satu pojok Masjid Azhar. Beberapa bulan waktu berjalan, aktivitas terus berulang. Hingga tiba saatnya break untuk menyiapkan ujian.

Mata kuliah kali ini berjumlah 8. Persiapan dimulai sebulan sebelum ujian dilaksanakan. Hari-hari terus diisi dengan muqarrar, belajar di Masjid terkadang di ruang keluarga, dan juga tak jarang di kamar. Aku mengatur jadwalnya sedemikian indah; siang di kamar, sore sampai malam di masjid, tengah malam di kamar, dan subuh sebentar di ruang keluarga.

Akh tidak mengenal tidur ketika itu, tapi aku dan teman-teman menyebutnya istirahat. Dalam kamus kami tidur dan istirahat memiliki arti yang beda walaupun pekerjaannya sama, kami menyebutnya untuk menghormati musim ujian. Aku kembali ingat bagaimana waktu itu aku tidur, tepatnya saat musim ujian dimulai. Aku tidur tanpa beralas kasur, juga kain tebal dan semacamnya, tapi aku tidur dengan beralaskan kain sarung tepat di atas karpet tipis sebagai pelapis lantai semen. Tepatnya, aku tidak bisa tidur beralaskan kasur pada saat itu.

Jayyid Jiddan Bukan Nilai yang Sedikit

Ketika beranjak ke kuliah dengan niat untuk melihat pengumuman hasil ujian tahun kedua, seperti biasanya hati akan sedikit tercabik-cabik. Dengan mimpi-mimpi yang terkadang merasuk dalam tidur yang tak pernah nyenyak. Bagai duri pohon kaktus yang terus menusuk pori-pori kulit.

Sepulang dari i'tikaf pada malam 27, lalu kembali ke rumah mematangkan untuk siap menerima kenyataan yang tak mungkin bisa ditolak. Pada pagi hari aku beranjak dari rumah pukul 10 pagi, perjalanan sejam menggunakan Metro sungguh melelahkan, ditambah lagi hati yang tak pernah tenang, tak sabar menanti nilai yang baik. Aku isi waktuku diperjalan dengan zikir juga dengan membaca Al Quran. Berdoa agar nasib baik memihak.

Metro telah sampai ke tujuan, Attaba. Selanjutnya mencari taksi untuk menyeberang jembatan gantung, sebut saja namanya kobri. Sekitar satu kilometer, aku pun sampai di gerbang Universitas Al Azhar. Aku terus melantunkan bacaan tasbih. Pengumumannya ada di mading fakultas syariah tingkat dua. Aku masuk ke dalam gedung fakultas lewat lorong lantai -1. Terus melangkah dan akhirnya sampai.

Aku hafal benar dengan nomor mahasiswa yang diberikan oleh fakultas untukku. Langsung saja aku mencari, yeah ketemu 15242. Kertasnya sedikit tertutup dengan pembatas mading, jadi aku harus sedikit mengintip.

Alhamdulillah aku lulus, aku meyakinkan terlebih dahulu, satu ruanganku, jelasnya saru kertas HVS tempat tercantum namaku lulus semua. Aku kemudian mengecek nilai, Yassalam aku Jayyid Jiddan, apa aku sedang bermimpi. Ternyata di sampingku ada kakak kelas dari Aceh. Langsung saja aku memintanya melihat, mungkin saja aku salah melihatnya.

"Ya Jayyid Jiddan, nilainya seribu, dibagi 12 mata kuliah berarti rata-ratanya sekitar 83. Mabruk ya". Aku terpukau, terdiam sejenak. Lantas azan pun berkumandang, aku pun meninggalkan Universitas dan menuju Masjid Al Azhar tepat di samping Universitas.

Selepas shalat, aku sujud syukur berterima kasih kepada Allah yang telah mengabulkan doaku selama ini. Ya, jelas saja, ini nilai yang luar biasa. Ini nilainya para lulusan terbaik orang lulusan dari pesantren, bukan lulusan dari MAN.

كل شئ يحدث بقدرة الله
Semua ini adalah kuasa Allah, mahasiswa Al Azhar tidak bisa lepas dari tiga hal, yaitu usaha, doa, dan tawakkal. Ketika tiga komponen itu bersatu. Maka hasilnya akan dinikmati. Juga ada yang mengatakan Al Azhar itu keramat, aku setuju dengannya. Semoga ini menjadi hasil yang membawa kepada perubahan yang lebih baik.

Hati Berbicara

Aku menulisnya H-1 Syafawi, ini.menjadi hal terberat bagiku. Menyelesaikan hafalan dua Juz sangat sulit sekali, beberapa kali aku mengulangnya ia lantas pergi. Aku mengulanginya lagi ia pun pergi lagi. Belum kita lirik mata kuliah yang lain.

Syafawi yaitu ujian lisan, jurusan syariah terdiri dari empat mata kuliah yang di ujiankan secara lisan. Empat mata kuliah ini merupakan mata kuliah jurusan kalau kita bahasakan dengan Indonesianya.

Empat mata kuliah tersebut adalah Fiqh Mazhab, Fiqh Muqarin, dan Ushul Fiqh. Sekilas pandang memang terasa berhubungan dan satu jalur. Tapi harus diketahui, sangat sulit untuk memilah-milah mazhab satu dengan mazhab lain di dalam mata kuliah Fiqh Muqarin.

Perjuangan dengan stadium full sudah dikerahkan. Dalam menanti hari H, beberapa jam ini akan terus dimaksimalkan. Dan akhirnya setelah usaha dan doa, semuanya serahkan kepada Allah dengan tawakkal. Semoga perjuangan ini diridha oleh Allah. Amiin

Cinta Menyapa

Hari pembagian rapor semester dua pun tiba. Aku sangat yakin akan lanjut ke kelas duabelas, namun yang diragukan apakah aku masih mampu mempertahankan peringkat di kelas walaupun itu dua puluh besar. Pembagian rapor kali ini wajib diambil oleh orang tua atau wali. Namun bagiku tak apalah karena nilainya juga bagus apalagi pelajaran Teknologi Komunikasi.

"Kamu dapat peringkat duabelas, sama seperti semester satu. Untuk kedepan harus ditingkatkan, kalau bisa sepuluh besar", harap orang tuaku.

"Yup, akan diusahkan ma", aku meyakinkan.

Rapor langsung aku masukkan ke ransel dan orang tuaku langsung pulang.

Aku penasaran, kenapa bisa peringkat duabelas sama seperti semester awal. Dan juga ini bukan yang pertama, karena kelas sepuluh aku juga dapat peringkat tiga di dua semesternya. Ah... Kesimpulannya aku mungkin sulit untuk menyerang, tapi aku dapat bertahan jika diserang.

Aku menuju gubuk kantin melepas kecemasan, disana sudah berkumpul teman seperjuanganku.
"gimana nilaimu", tegurnya.

"Ah... Tidak sebaik nilaimu", jawabku polos.

Aku hanya memesan air mineral yang kaya manfaat. Dan berniat menuju parkir langsung cabut dari sekolah.

Baru beberapa meter dari kantin, langkahku terhenti. Dari kejauhan aku melihatnya--seseorang yang aku kagumi dan juga dekat denganku akhir-akhir ini-- sedang duduk bersama temannya di jalan masuk halaman sekolah. Sejenak aku terpaku, tak tahu bagaimana cara untuk memulai. Jalan satu-satunya menuju parkiran adalah melewati pintu masuk tersebut. Aku mulai melangkah, mencoba untuk tetap santai, karena itu ciri khasku.

"Bagaimana nilainya, dapat peringkat berapa?", tanyaku santai.

"enggak sebagus yang diharapkan, tapi masuk sepuluh besar", jawabnya lesu.

"lho, itu nilainya sudah bagus, tinggal tingkatkan lagi aja", aku memberi semangat.

"Kamu dapat peringkat berapa?", tanyaku kepada teman di sampingnya.

"Alhamdulillah tiga, tapi enggak tinggi nilainya, rata-ratanya beda tipis sama kalian kok. Eh... Aku duluan ya, sudah di jemput", jelasnya sambil beranjak pergi.

Temannya bergegas keluar menuju gerbang sekolah dengan senyum perpisahan.

"Kamu enggak pulang, dijemput?", tanyaku simple.

"Enggak, belum mau pulang mungkin bentar lagi. Kamu pulang duluan aja."

"Ah gampang itu dekat kok, cuma 7 KM. Pulang sama siapa juga?"

"Pulang sendiri, naik angkutan umum dari halte. Memangnya pulang naik apa?"

"Masih dengan motor kesayangan,hehe jangan lama-lama disini nanti dicariin sama orang tua, mana tau dirumah nanti ada surprise, yuk bareng ke halte."

Iya pun mengangguk setuju, kami pun keluar dari sekolah yang megah menuju halte.

"Oa, kita kok bisa kenal ya, padahal bukan satu tsanawiyah dulu" iseng-iseng aku bertanya.

"Mm,, uda takdirnya begitu mungkin, kan manusia diciptakan berbeda-beda agar saling mengenal." jawabnya dengan senyum.

"iya ya bener juga,, jujur, aku kagum dengan sendirinya sejak pertama kenal kamu." jelasku meyakinkannya.

"Kalau aku sudah lama kagum sama kamu jauh-jauh hari sebelum kamu kenal aku." balasnya dengan senyum.

Bersambung . . .

***

Cerpen ini ditulis demi terpenuhnya tugas dalam suatu organisasi cabang Indonesia di Cairo.