Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label reporter. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label reporter. Tampilkan semua postingan

Haul di Masjid Al-Azhar Dipadati Ratusan Jamaah

Kairo – Rabu (2/4/2014) Yayasan Al-Asyirah Al-Muhammadiyah bekerja sama dengan pengurus Masjid Al-Azhar mengadakan seminar dalam rangka memperingati haul ke-16 Imam Zaki Ibrahim, dengan tema “Semua Umat Islam Bertauhid”. Acara tersebut dihadiri oleh beberapa ulama Al-Azhar, diantaranya Dr. Muhammad Muhanna, Dr. Jamal Faruq, Dr. Ahmad Abu An-Nur, Dr. Masmuh Abu Thalib, Dr. Fauzi Ruslan , dan Dr. Usamah Sayyid Al-Azhari.
Imam Zaki Ibrahim merupakan pendiri Yayasan Al-Asyirah Al-Muhammadiyah. Yayasan ini fokus di bidang dakwah Islam Sufistik. Beliau mempunyai beberapa karya, diantaranya Fiqh As-Shalawat wal Madaih Al-Muhammadiyah, Qadiyyah Al-Imam Al-Mahdi, Khulasah Al-Aqaid fi al-Islam serta Assalafiyah Al-Muashirah ila Aina? wa Man Hum Ahlussunnah?
Pada sesi pertama Dr. Jamal Faruq menuturkan bahwa kita harus merujuk kepada para ulama yang mumpuni dalam bidangnya, dan tidak mudah mengeluarkan keputusan sendiri tanpa sumber yang jelas. Demikian juga kita tidak boleh mudah mengkafirkan orang lain dengan seenaknya sebab sebuah perbedaan.
Dalam sambutannya, Dr. Ahmad Abu An-Nur menjelaskan bahwa Islam adalah agama tauhid dan penuh rahmat, dimana para pemeluknya saling menyayangi. Bahkan rahmat itu bukan hanya untuk manusia, melainkan untuk semua makhluk.
Pada sesi selanjutnya, Dr. Usamah Sayyid Al-Azhari memberi sambutan dengan mengatakan: “Wahai orang yang berilmu dan beradab, jangan mudah memecah-belah umat dan menganggapnya sebagai perkara yang sepele. Lebih dari itu jangan sampai mudah mengkafirkan orang lain yang memiliki pandangan berbeda.”
Seluruh rangkaian acara haul ke-16 Imam Muhammad Zaki Ibrahim berakhir pukul 21.10 clt dengan sambutan terakhir sekaligus pembacaan doa oleh Dr. Usamah Sayyid Al-Azhari. (ys/ruwaqazhar.com)

Al Azhar Membina Imam Masjid di Belgia

Al-Azhar Siap Membina Para Imam Masjid di Belgia

Syekh al-Azhar Ahmad Thayyib menegaskan bahwa al-Azhar siap membantu muslim Eropa untuk menjaga stabilitas negaranya masing- masing. Hal itu disampaikan oleh Syekh Ahmad Thayyib ketika bertemu dengan Dubes Belgia untuk Mesir, Gilles Heyvaert.

Dalam pertemuan itu Syekh Ahmad Thayyib mengatakan bahwa al-Azhar berencana untuk melaksanakan beberapa program guna merealisasikan tujuan tersebut , salah satunya adalah dengan membina para imam masjid di Belgia dan Eropa, supaya bisa menjadi bagian dari stabilitas negaranya serta menyebarkan kedamaian.

Al-Azhar juga akan menerima pelajar muslim dari Eropa supaya nanti bisa membantu kemajuan negaranya dengan metode Islam yang moderat dan memerangi pemikiran yang ekstrim dan radikal.

Syekh al-Azhar meminta Dubes Belgia untuk segera merealisasikan pengadaan saluran komunikasi langsung dengan para imam masjid di Belgia guna melancarkan program tersebut.

Sementara itu, pihak Dubes Belgia menyambut baik ide yang ditawarkan al-Azhar dan berjanji akan segera mengadakan saluran komunikasi yang diharapkan oleh Syekh al-Azhar. pihaknya juga akan mengirimkan lebih banyak lagi pelajar dari Belgia untuk belajar di al-Azhar, supaya nanti bisa membawa risalah Islam yang benar. Dia juga menjelaskan bahwa Grand Syekh al-Azhar adalah pembawa risalah kedamaian dan stabilitas dunia.

Sumber: Majalah al-Azhar edisi Dzulhijjah 1434 H.

Al Azhar Institusi Muslim Terbesar

Al-Azhar meski merupakan institusi muslim terbesar yang menjaga tradisi keilmuan Islam sejak lebih dari seribu tahun, namun tidak menutup mata kepada kemajuan yang diraih oleh bangsa lain, khususnya bangsa barat.

Tahun 1826 tercatat menjadi gerbang pembuka antara al- Azhar dengan Eropa dalam bidang keilmuan. Sejak saat itu hingga saat ini telah banyak guru-guru yang dikirimkan ke berbagai negara di Eropa untuk belajar, meneliti dan juga menyebarkan dakwah Islam moderat sesuai dengan metode al-Azhar di sana.

Dalam pengantarnya Dr. Muhammad Imarah membahas dengan detail tentang perjalanan Syekh Rifa`ah Tahthawi yang dikirim oleh Syekh Azhar saat itu, Syekh Hasan al-Atthar sebagai orang yang pertama kali berkunjung ke Paris sebagai seorang ilmuan guna mempelajari peradaban dan kemajuan barat.

Wisuda Universitas al-Azhar

Wisuda Universitas al-Azhar

Senin pagi (7/10), Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) Mesir bekerja sama dengan Atase Pendidikan KBRI Kairo dan Ikatan Alumni al-Azhar Internasional mengadakan acara Resepsi Wisuda Sarjana Universitas al-Azhar yang bertempat di Auditorium Andalus di kompleks al-Azhar Conference Center, Nasr City, Kairo.

Hadir dalam acara ini Duta Besar RI untuk Mesir Nurfaizi Suwandi, Atase Pendidikan KBRI Kairo Dr. Fahmy Lukman, M.Hum beserta jajarannya, Prof. Dr. Abbas Syuman selaku wakil al-Azhar, Prof. Dr. Ibrahim Hudhud wakil Rektor Universitas al- Azhar, Dr. Ahmad Husni wakil Rektor Universitas al-Azhar, Penasehat Syaikh Azhar urusan luar negeri Abdurrahman Musa, dan segenap dekan fakultas di Universitas al-Azhar.

Wisuda kali ini dihadiri oleh sebanyak 353 orang mahasiswa dan mahasiswi al-Azhar yang berasal dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapura, Filipina, Rusia dan Nigeria.

Dalam sambutannya, Dr. Abbas Syuman menyatakan, "Saya tidak memberikan kalian nasehat kecuali tiga hal yang telah kalian sebut dalam ikrar: Berpegang teguh pada al-Quran, berpegang teguh pada Sunah Rasulullah, dan menyebarkan paham Islam yang moderat dan toleran sebagaimana yang diajarkan oleh al-Azhar"

Mengupas Manhaj Asy'ari dan Wahabi

Hari Minggu tepatnya tanggal 22 September 2012, pengurus KMA di bawah koordinasi Departemen Litbang memulai jihadnya dengan menghadirkan Dialog Interaktif yang bertajuk "Mengupas Manhaj Asy'ari & Wahabi". Dialog Spektakuler ini menghadirkan dua narasumber yang berkompeten dalam bidangnya. Mereka adalah Tgk. Ridwan M. Yusuf, Lc. dari kubu Wahabi dan Tgk. Bashiruddin Rahmat dari kubu Asy'ari. Tidak terlewatkan juga moderator ulung KMA Tgk. Alwin Abdillah yang memimpin acara ini sampai tuntas.

Pada awalnya, dialog terasa sedikit garing, ditambah lagi kedua narasumber yang langsung memakai intonasi tajam. Tidak sedikit kicauan audien memberi intruksi hingga dialog menjadi terarah. Disela-sela dialog juga sempat terjadi perdebatan yang wajar, tidak sedikit dari audien memberi tanggapan, pertanyaan, serta tambahan kepada kedua narasumber.

Tetapi terlihat jelas, pertanyaan banyak yang mengarah ke kubu Wahabi, tapi langsung saja diselesaikan oleh Tgk. Ridwan dengan perlahan. Di penghujung dialog, kedua narasumber diberi kesempatan untuk menyampaikan kata-kata terakhir. Dalam kesempatan ini Tgk. Ridwan menegaskan bahwa pentingnya kita untuk memiliki dalil di setiap pendapat kita, yang tentunya merujuk kepada ulama salafus-sunnah. Sementara itu Tgk. Bashiruddin berpesan agar kita bisa menggunakan logika akal ketika ada permasalahan yang membutuhkan kepada hal tersebut, tanpa mengurangi kekuatan dalil-dalil yang telah ditentukan.

Latihan Dasar Kepemimpinan KMA

“Pembekalan Diri Menjadi Pemimpin Yang Berjiwa Ke-Aceh-an", begitulah bunyi tema Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) yang digagas oleh Departemen Pendidikan. Acara yang diadakan pada Selasa, 24 September dihadiri oleh dua narasumber handal; Tgk. As’adi Muhammad Ali dan Ust. Zamzami Shaleh, Lc.

LDK ini bertujuan untuk mencetak kader-kader pemimpin yang berkompeten dalam memimpin dimanapun dan dilevel apapun. Acara yang dimoderatori oleh Tgk. Azmi Abubakar ini berjalan lancar dan para peserta pun terlihat cukup antusias mendengarkan materi yang disampaikan. Kerja keras panitia terbayarkan dengan semangat para peserta yang hadir, walaupun secara kuantitas tidak semua masyarakat KMA menghadiri acara tersebut.

Ust. Zamzami dalam penyampaiannya lebih membahas kepada materi kepemimpinan secara umum. Setelah itu materi dilanjutkan oleh Tgk. As'adi, beliau lebih banyak bercerita pengalaman yang mengarah kepada kriteria pemimpin yang dapat diterima oleh Masyarakat Aceh kelak. Sebagai hiburan, Tgk. As’adi juga memberikan permainan simulasi, yang mana inti dari simulasi tersebut adalah untuk mengajarkan warga KMA agar selalu menjaga ikatan persaudaraan dan kekompakan antar sesama.

Islam dan HAM

Grand Syaikh al-Azhar Ahmad Thayyib mengatakan bahwa Islam adalah yang pertama menjaga hak asasi manusia di alam ini. Islam tidak membedakan satu orang dan yang lainnya menurut jenis, agama dan warna kulitnya.

Pesan itu beliau sampaikan, kemarin (30/9) di sela-sela pertemuan dengan ketua Komnas HAM Mesir, Muhammad Faik. Beliau mengajak untuk menyebarkan budaya menjaga HAM kepada masyarakat luas dan menetapkan materi HAM sebagai kurikulum di seluruh sekolah dan universitas.

"Kita harus mendidik anak- anak kita untuk menjaga HAM, begitu juga mengumumkan hal ini kepada masyarakat untuk menjaga hak-hak mereka." Kata Syaikh Ahmad Thayyib

Catatan Akhir Tahun 2012

Lazimnya manusia memiliki pengalaman-pengalaman yang gembira, sedih, maupun kecewa. Pengalaman itu kemudian hari menjadi kenangan, bisa jadi indah atau buruk. Dilihat dari tanggal mainnya juga membuat kenangan itu lebih diingat dari yang lainnya.
Tercatat, pada akhir bulan Des sampai awal bulan Jan 2013, Universitas Al Azhar mengadakan ujian term I. Tak mengenal yang namanya natal, tahun baru atau apalah bahasa lainnya. Semua mahasiswa dibuat olehnya berkutit dengan diktat kuliah. Buktinya, besok, tanggal 1, yang menjadi hari libur dunia tidak menjadi hari apapun buat Al Azhar, malahan besok ada yang akan menghadapi ujian. Memang setiap negara, instansi, dan lainnya memiliki cara pandang dan paradigma sendiri.
Akhir tahun ini, aku menutup lembaran waktu ditemani dengan imtihan(final) qadhaya fiqhiah mu'asharah atau lebih dikenal dengan fiqh kontemporer. Ini termasuk mata kuliah sulit di kuliah Azhar. Namun semua telah berlalu, begitulah waktu. Semoga Allah beri kelulusan padaku.

Jadwal Ujian Semester 4

Sabtu. 25 : 5 quran
Selasa. 28 : 5 ahadisul ahkam
Sabtu. 1 : 6 ahwal shaksyiyah
Selasa. 4 : 6 fiqh mazhabi
Sabtu. 8 : 6 fiqh muqarin
Selasa. 11 : 6 qaah bahst
Sabtu. 15 : 6 ushul fiqh
Selasa. 18 : 6 inggris

Suasana Ramadhan di Negeri Seribu Menara

Bulan Ramadhan sudah dipenghujungnya, bagi sebagian orang ada yang melewatinya dengan melaksanakan ibadah sepanjang hari, dan sebagian yang lainnya ada yang melewatinya dengan ibadah dan beraktivitas seperti biasa. Bulan yang penuh keberkahan ini menjadi perhatian penuh bagi muslim yang taat diseluruh dunia untuk melewati hari-harinya dengan segala macam ibadah.

Ini merupakan Bulan Ramadhan yang kedua, selama saya berada di Cairo, jelas terasa beda suasana puasa di Aceh dengan Cairo. Berawal dari durasi waktu berpuasa yang lebih panjang sekitar 4 jam dengan Aceh, karena Bulan Ramadhan datang pada saat musim panas.

Biasanya pada sepuluh hari terakhir di Bulan Ramadhan, saya bersama teman-teman Aceh beri'tikaf di Masjid tertua di Afrika, Masjid Amru bin Ash yang terletak di Fustat, Cairo. Disana memang menjadi pusat i'tikaf warga Mesir. Namun karena kondisi mesir yang kurang kondusif untuk keluar rumah, kami membatalkan rencana i'tikaf tahun ini di Masjid tersebut. Batalnya i'tikaf di Masjid Amru bin Ash memang sedikit mengubah nuansa Ramadhan tahun ini dibanding tahun-tahun sebelumnya. Ditambah lagi hiruk pikuk yang terus berlanjut, seakan-akan bulan Ramadhan belum kunjung tiba.

Terlepas dari kondisi Mesir sekarang ini. Puasa di Negeri Orang memang memiliki kesan tersendiri, hal itu mulai saya rasakan ketika melihat cara bersedekah orang Mesir dalam bulan ini yang begitu fantastis, banyak masjid yang mengadakan buka puasa bersama setiap harinya, terlebih lagi sepuluh hari terakhir ini, sampai-sampai saya dan teman-teman yang berada di kawasan Mathareya tidak perlu memasak makanan berbuka untuk sepuluh hari terakhir, semuanya sudah disediakan oleh orang Mesir yang dermawan.

Juga diwaktu lain pada bulan-bulan Ramadhan ini, ketika melihat warga asing yang tujuannya ke Mesir untuk menuntut ilmu, sering sekali mereka memberikan bantuan berupa uang dan sembako --hal ini tidak hanya terjadi pada bulan Ramadhan, tetapi juga pada bulan lainnya--, mereka sangat yakin dan paham benar dengan hadits yang membahas tentang pahala orang yang bersedekah. Ditambah lagi mereka senang terhadap penuntut ilmu yang datang dari jauh ke negerinya.

Shalat Tarawih di sebagian Masjid juga sedikit berbeda dengan Aceh. Hampir rata-rata Masjid mengkhatamkan satu Juz Al Quran dalam setiap shalat tarawih. Dan yang unik bagi saya pada sepuluh terakhir Ramadhan, beberapa Masjid yang saya kunjungi tidak melaksanakan shalat witir berjamaah setelah shalat tarawih, para jamaah langsung bubar, itu dikarenakan shalat akan disambung kembali dengan tahajjud/shalat malam berjamaah.

Disisi lain, ada beberapa masjid di Cairo yang langsung diimami oleh mahasiswa pendatang seperti Indonesia, Malaysia, Nigeria, dan negara lainnya. Sebut saja mahasiswa Aceh, ada beberapa yang menjadi imam di Masjid kawasan Mathareya, ada yang menjadi imam di kawasan Qattameya, Muqattam, Rab'ah, dan tempat lainnya untuk menjadi imam tarawih, witir, serta tahajjud pada sepuluh hari terakhir. Para Imam membawa irama indah dalam shalat sehingga menambah minat orang Mesir dengan bacaan Al Quran mahasiswa Melayu (baca: Indonesia, Malaysia).

Orang Mesir sangat menyukai bacaan Al Quran mahasiswa Melayu dengan suara khasnya. Sebagian dari Mereka sering mengatakan, suara mahasiswa Indonesia dan Malaysia bagus-bagus semua seperti bacaan Imam-Imam terkenal. Walaupun dilihat secara nyata tidak semuanya memiliki suara yang merdu, tapi setidaknya para Imam telah mengharumkan nama daerahnya di mata orang Mesir.

Menjadi pelajaran yang berarti ketika melihat cara bersedekah dan ibadah secara jamaah orang Mesir selama bulan Ramadhan, yang patut kita contoh. Kita juga berharap semoga amalan-amalan yang telah kita lakukan dan yang akan kita laksanakan di bulan Ramadhan yang tinggal beberapa hari lagi ini diterima oleh Allah. Dan harapan kita semua bisa menjadi orang yang muttaqin dalam dimensi hablumminallah wa hablumminannas. Semoga!

Ketika Ujian Menyapa

Mahasiswa Program Sarjana Universitas Al Azhar  Mesir akan melaksanakan Final Term II pada pertengahan bulan Mei depan. Sistem ujiannya berupa syafawi(lisan) dan tahriri(tulisan). Ujian lisan akan berlangsung pada interval tanggal 11 sampai 23, dan berikutnya akan dilanjutkan dengan Ujian Tulis.

Sistem perkuliahan di Universitas Al Azhar tingkat sarjana, setiap tahunnya terbagi kepada dua sesi, Term I dan Term II. Term I dilaksanakan pada musim dingin, sedangkan Term II dilaksanakan di musim semi sampai awal musim panas. Dengan faktor ini menyebabkan mata kuliah di Term II lebih banyak karena waktu yang relatif panjang daripada Term I, disetiap Jurusannya.

Yang uniknya, rata-rata Organisasi Mahasiswa Asing yang biasanya mengadakan bermacam ragam kegiatan berupa kajian diskusi, riset penelitian, seminar pendidikan dan lainnya sekejap terhenti dengan akan dilangsungkannya Ujian Term II Al Azhar ini.  Sebagai contoh, Keluarga Mahasiswa Aceh Mesir (KMA) di Cairo, sudah menghentikan segala agenda formal pada tanggal 12 April yang lalu dengan satu kajian keilmuan.

Juga IPQI Mesir --kepanjangan dari Ikatan Persaudaraan Qari-Qariah Indonesia, organisasi ini fokus dibidang baca al-Quran secara mujawwad juga tahsin dan hafal al-Quran-- telah menghentikan sesaat berbagai kegiatan pada tanggal 11 April yang lalu. Dan akan dilanjutkan kembali selepas ujian Term II. Padahal interval waktu dihentikannya segala aktivitas mahasiswa indonesia berkisar setengah sampai satu bulan.

Termasuk mereka yang gemar dalam menghadiri talaqqi di sudut-sudut masjid Al Azhar, ada yang tawaqquf (berhenti) sejenak dalam menyambut Ujian ini.

Berhentikannya segala aktivitas ini bertujuan, agar para mahasiswa dapat fokus dalam mempersiapkan secara matang mata kuliah yang akan diuji. Dibalik itu, sebenarnya ada hal yang lebih ekstrim lagi yang menjadi faktor berhentinya berbagai kegiatan non-akademik Mahasiswa Indonesia. Yaitu, sistem kuliah Al Azhar yang berbeda dengan Universitas di tempat lain, khususnya di Indonesia.

Ujian di Al Azhar
Pada dasarnya, pendidikan sarjana di Al Azhar terdiri dari empat tingkat(level), disetiap level terdiri dari dua Term. Diakhir setiap Term dilaksanakan ujian. Dan hasil ujian pada dua Term ini menjadi nilai yang menentukan lulus atau tidaknya mahasiswa.

Al Azhar, terkhusus jurusan agama, masih menganut sistem klasik di Universitasnya. Berbeda dengan Universitas lain, khususnya di Indonesia yang sistem kuliahnya terbagi dalam berbagai model pengajaran, salah satunya diskusi. Juga, sistem pengambilan nilai yang terbagi dalam tiga elemen, yaitu Quiz, Midterm, dan Final. Yang biasanya nilai Quiz dan Midterm akan sangat membantu nilai Final, sehingga nilai Final bukanlah harga mati.

Sedangkan di Al Azhar, nilai hasil ujian Term menjadi nilai mutlak dan sandaran nilai kelulusan. Sistem klasik di Al Azhar tidak mengenal Quiz dan Midterm, hanya sesekali di jurusan dan mata kuliah tertentu yang meminta mahasiswa untuk membuat bahs(karya ilmiyah). Sehingga menjadikan nilai Final adalah harga mati untuk naik ke tingkat selanjutnya.

Sistem kuliah yang seperti ini membuat para Mahasiswa Al Azhar, non-arabic speaking khususnya sangat berhati-hati dalam menghadapi dan mengikuti ujian. Ujian setiap mata kuliahnya selama tiga jam harus mampu menyelesaikan tiga sampai lima soal dengan furu'-furu'nya. Sehingga sangatlah wajar kalau kita melihat mengapa kegiatan-kegiatan non-akademik dihentikan pada saat ujian.

Namun, sistem klasik sedemikian rupa tidak mengendurkan semangat para mahasiswa dalam menuntut ilmu. Disamping kuliah formal Universitas, diluar waktu kuliah para mahasiswa dapat memenuhi sudut-sudut masjid Al Azhar untuk menimba berbagai macam disiplin ilmu dari guru yang bersambung riwayat ilmunya sampai ke penulis kitab-kitab klasik tersebut. Al Azhar, yang berawal dari sebuah masjid sangatlah mengedepankan sanad(riwayat) dalam setiap ilmu yang dipelajari. Sehingga sistem pembelajaran seperti inilah yang membuat musuh-musuh Islam takut kepada Islam.

Kunjungan Komisi E DPRA ke Kairo

Dalam agenda menyalurkan bantuan dana ke Gaza. Utusan dari Aceh, Bapak Makhyaruddin bersama teman beliau Bapak Khairul Amal (mantan anggota DPRA), menyempatkan diri berkunjung ke Meuligoe KMA (Rabu, 03/04/2013) untuk ramah-tamah bersama mahasiswa/i Aceh di Kairo seputar sosialisasi beasiswa dan terkait problem bendera dan lambang Nanggroe.

Acara dimulai pukul 3 siang, dimoderatori oleh Tgk. Hasan. Acara langsung masuk ke inti setelah break Shalat Ashar. Beliau menyampaikan, beasiswa yang di plot untuk memperpanjang penerima beasiswa lanjutan sebesar 40 M, sedangkan sisa sekitar 25 M yang sampai sekarang masih dibintangi.

Beliau sempat terkejut mengetahui bahwa setelah angkatan tahun 2009, beasiswa ke Timur Tengah khususnya Mesir putus total. Beliau mengatakan akan berupaya untuk merampungkan kondisi ini sehingga walaupun tidak mendapat beasiswa utuh sebagaimana biasa, setidaknya mendapatkan tunjangan biaya pendidikan.

Beliau meninggalkan KMA setelah.acara berakhir pada pukul 7 malam dan ditutup dengan makan malam. Beliau juga membawa satu bundel data anggota KMA sebagai bukti kondisi aneuk aceh terkait masalah beasiswa yang belum merata.

Mentari Mulai Mencekik

Kairo, Minggu (31/03). Hari telah memasuki bulan April, pertanda musim telah berganti dari panas sedikit menjadi panas sekali. Bisa diperkiraan suhunya dengan membandingkan pakaian di jemuran. Yang biasanya akan kering dalam 1-2 hari, namun sekarang cukup menunggu 2-3 jam saja.

Mentari telah mencekik sesaat lagi mulai membakar. Sudah dimaklumi, menjalani hari di musim panas lebih terasa berat daripada musim dingin. Terbukti ketika baru melangkah kaki keluar rumah saja keringat langsung beraksi. Di tambah lagi ketika harus menghadiri kuliah pada jam siang. Mungkin akan sedikit membakar otak.

Suasana di jalanan juga sangat mendukung, mereka mulai memainkan emosinya. Tidak tanggung-tanggung, banyak terjadi pertengkaran dan perkelahian walaupun dalam permasalahan skala kecil.

Dibalik sisi negatif pasti memiliki sisi positif. Salah satunya untuk belajar pada malam hari sedikit lebih ringan dibanding musim dingin yang harus mengenakan pakaian tebal. Juga lebih banyak mengeluarkan keringat sehingga bisa dikatakan musim panas adalah musim kesehatan, banyak dari mereka yang melangsungkan diet pada musin panas.

Begitulah perjuangan aneuk nanggroe yang menjalani studi di kairo, mereka tetap tabah dalam menjalaninya. Mungkin sekali-kali mereka mengeluh dan selanjutnya muncul semangat kembali.

Maulid Nabi Muhammad

KMA-Mesir memperingati hari kelahiran Rasul pada hari kamis(28/03) di Meuligoe KMA. Acara dimeriahkan oleh Dikee Aceh-yang telah dibentuk tahun lalu-, ceramah maulid yang disampaikan oleh Tgk. Daud-dai kondang KMA, dan acara ditutup dengan alunan nasyid bersama iringan gitar.

Acara dimulai dengan Dikee Maulid yang dipimpin oleh Tgk. Syairazi dan diikuti oleh 12 orang personil. Dengan durasi sekitar satu jam itu mampu menumbuhkan kembali rasa rindu kepada baginda Rasulullah.

Kemuadian dilanjutkan dengan ceramah maulid. Penceramah memberikan nasihat kepada kita semua agar senantiasa terus berselawat kepada Nabi Muhammad. Di zaman yang penuh dengan khilafiyah ini sedikit tidaknya telah membuat kita luput dari selawat kepada Nabi. Penceramah juga menyampaikan, seseorang yang menginginkan berjumpa dengan Nabi dalam mimpinya adalah dengan cara berselawat kepada Rasul sekurang-kurangnya 300 kali dalam sehari.

Acara dilanjutkan dengan alunan nasyid yang dikarang langsung oleh warga KMA. Mereka membawakan dua tembang nasyid yang bermaudhu Maulid Nabi.

Acara diakhiri dengan makan-makan bersama. Menu kali ini nasi kuning dengan rendang olahan Anggota Kesejahteraan KMA. Alhamdulillah acara berjalan dengan sangat nikmat.